Essay Kontroversi Ujian Nasional
Kontroversi Ujian Nasional
Oleh : Indah
Oleh : Indah
Ujian Nasional merupakan salah satu jenis penilaian yang diselenggarakan pemerintah guna mengukur keberhasilan belajar siswa. Dalam beberapa tahun ini, kehadirannya menjadi perdebatan dan kontroversi di masyarakat. Di satu pihak ada yang setuju, karena dianggap dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dengan adanya ujian nasional, sekolah dan guru akan dipacu untuk dapat memberikan pelayanan sebaik-baiknya agar para siswa dapat mengikuti ujian dan memperoleh hasil ujian yang sebaik-baiknya. Demikian juga siswa didorong untuk belajar secara sungguh-sungguh agar dia bisa lulus dengan hasil yang sebaik-baiknya. Sementara, di pihak lain juga tidak sedikit yang merasa tidak setuju karena menganggap bahwa Ujian Nasional sebagai sesuatu yang sangat kontradiktif dan kontraproduktif dengan semangat reformasi pembelajaran yang sedang kita kembangkan. Sebagaimana dimaklumi, bahwa saat ini ada kecenderungan untuk menggeser paradigma model pembelajaran kita dari pembelajaran yang lebih berorientasi pada pencapaian kemampuan kognitif ke arah pembelajaran yang lebih berorientasi pada pencapaian kemampuan afektif dan psikomotor, melalui strategi dan pendekatan pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan dan kontekstual, dengan berangkat dari teori belajar konstruktivisme.
Kita maklumi pula bahwa Ujian Nasional yang dikembangkan saat ini dilaksanakan melalui tes tertulis. Soal-soal yang dikembangkan cenderung mengukur kemampuan aspek kognitif. Hal ini akan berdampak terhadap proses pembelajaran yang dikembangkan di sekolah. Sangat mungkin, para guru akan terjebak lagi pada model-model pembelajaran gaya lama yang lebih menekankan usaha untuk pencapaian kemampuan kognitif siswa, melalui gaya pembelajaran tekstual dan behavioristik.
Selama ini penentuan batas kelulusan ujian nasional ditentukan berdasarkan kesepakatan antara pengambil keputusan saja. Batas kelulusan itu ditentukan sama untuk setiap mata pelajaran. Padahal karakteristik mata pelajaran dan kemampuan peserta didik tidaklah sama. Hal itu tidak menjadi pertimbangan para pengambil keputusan pendidikan. Belum tentu dalam satu jenjang pendidikan tertentu, tiap mata pelajaran memiliki standar yang sama sebagai standar minimum pencapaian kompetensi. Ada mata pelajaran yang menuntut pencapaian kompetensi minimum yang tinggi, sementara mata pelajaran lain menentukan tidak setinggi itu. Keadaan ini menjadi tidak adil bagi peserta didik, karena dituntut melebihi kapasitas kemampuan maksimalnya.
Ujian Nasional sering dimanfaatkan untuk kepentingan diluar pendidikan, seperti kepentingan politik dari para pemegang kebijakan pendidikan atau kepentingan ekonomi bagi segelintir orang. Oleh karena itu, tidak heran dalam pelaksanaannya banyak ditemukan kejanggalan-kejanggalan, seperti kasus kebocoran soal, nyontek yang sistemik dan disengaja, merekayasa hasil pekerjaan siswa dan bentuk-bentuk kecurangan lainnya.
Terlepas dari kontroversi yang ada bahwa sampai saat ini belum ada pola baku sistem ujian akhir untuk siswa. Perubahan sering terjadi seiring dengan pergantian pejabat. Hampir setiap pejabat ganti, kebijakan sistem juga ikut berganti rupa. Puluhan tahun UN sudah berlangsung dengan semua kecurangan di dalamnya, dan setiap kali pemerintah hanya berkata kita akan memperbaikinya. Tetapi yang terjadi adalah kecurangan berlangsung makin luas dan makin dalam. Pemerintah bisa berkaca dari Finlandia, terkenal dengan mutu pendidikannya yang tinggi dan menjadi model bagi banyak negara. Di sana ujian kelulusan ditiadakan, tugas rumah siswa diminimalkan atau bahkan ditiadakan, kolaborasi lebih diutamakan dibanding kompetisi. Finlandia tetap menggelar Ujian Nasional tetapi hasilnya semata untuk keperluan pemetaan bukan untuk kelulusan. Bahwa di Finlandia tidak ada ujian kelulusan dan mutu pendidikan mereka sangat baik, menjadi alasan utama pihak yang menginginkan agar UN dihapus. Tidak ada ujian kelulusan, tidak ada tugas rumah bagi murid, pasti bukan itu yang membuat mutu pendidikan mereka menjadi sangat baik. Interaksi kontinu antara murid dan guru sehari-hari berlangsung sangat baik, guru dapat dipercaya dan dapat memastikan bahwa setiap siswa dari latar belakang yang berbeda tetap mampu mencapai hasil belajar yang baik, suasana sekolah yang kondusif dan menoleransi keragaman, adalah sebagian dari faktor-faktor yang menyebabkan mutu pendidikan Finlandia sangat baik dan merata. Sangat logis ujian kelulusan menjadi tidak perlu, sebab kalaupun diadakan maka setiap murid pasti lulus dengan baik dan benar (lulus bukan karena dapat bocoran soal, atau bukan karena nilai yang dikatrol, atau bukan karena sogokan). Sangat logis juga tugas rumah tidak perlu diberikan, sebab tanpa tugas rumah murid tetap belajar.
Kompasiana.com http://www.tempointeraktif.com/
Wikipedia,com Liputan6.com

Komentar
Posting Komentar