Essay Transportasi online vs konvensional


Transportasi online vs konvensional 
Oleh : Maryam

Perlu dipahami bersama bahwa arus kemajuan teknologi merupakan sebuah keniscayaan 
yang mau tidak mau harus kita ikuti. Jasa transportasi online merupakan jasa transportasi yang 
memanfaatkan kemajuan teknologi. Teknologi diciptakan tujuannya untuk mempermudah segala 
aktivitas-aktivitas manusia yang dilakukan sehari-hari. Begitu juga halnya dengan jasa transportasi 
online. Transportasi online diciptakan dengan tujuan untuk mempermudah seseorang yang ingin 
bepergian. Sebagai contoh: mudah memesannya, efesien dan efektif. Ini merupakan sebuah 
terobosan baru yang patut diberi apresiasi. 

Perusahaan seperti Gojek, Grab, dan Uber berkembang begitu pesat dan melebarkan sayap 
operasi bisnisnya tidak hanya di Jakarta tapi di kota-kota lain di Indonesia. Kemajuan layanan 
transportasi berbasis aplikasi ternyata memiliki dua sisi. Satu paras dia tampak indah dengan 
segala kemudahan yang ditawarkan. Sisi lainnya dia rawan memicu konflik. Konflik yang 
mewarnai pertentangan angkutan konvensional dan online justru mengarah pada aksi kekerasan. 
Memblokade jalan dengan makian, razia paksa yang dilakukan sepihak, hingga ujungnya terjadi 
kekerasan adalah implikasi dari diskursus soal ekonomi berbagi yang diusung oleh aplikasi 
transportasi online.  

Pasalnya, menurut klaim mereka, pendapatan berkurang seiring dengan meningkatnya 
popularitas dari taksi dan ojek online. Demo ini diwarnai dengan aksi kerusuhan, yang kemudian 
menjadikan warga ketakutan. Lantas, mengapa fenomena ini terjadi? Sebenarnya, terjadi 
perbedaan cara pandang di kedua pihak. Di pihak pengemudi taksi konvensional, mereka merasa 
dirugikan. Pertama, taksi konvensional terdaftar secara resmi di dinas perhubungan, sehingga 
berhak mendapat plat kuning, tanda angkutan umum sedangkan taksi berbasis aplikasi 
menggunakan kendaraan biasa,  yang bukan untuk angkutan umum. Kedua, dengan mereka resmi 
sebagai angkutan umum, mereka pun berkewajiban membayar pajak yang berbeda dengan 
pengguna plat hitam, plat kendaraan biasa, yang juga digunakan oleh taksi berbasis aplikasi. 
Ketiga, taksi konvensional menggunakan metode menunggu penumpang, sedangkan taksi berbasis 
aplikasi menjemput penumpang. Keempat, yang paling krusial, adalah perbedaan tarif, tarif taksi 
konvensional jika dibandingkan dengan tarif taksi berbasis aplikasi berbeda jauh. Terakhir, ini 
adalah masalah adaptasi terhadap teknologi yang diambil peluangnya oleh pengguna taksi berbasis 
aplikasi, dan belum digarap dengan baik oleh pihak pengelola taksi konvensional. 

Dengan adanya konflik ini pemerintah dalam hal ini kementrian perhubungan 
mengeluarkan peraturan “pengaturan tarif” yakni pemerintah ingin menaikkan standar tarif untuk 
penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi. Peraturan dari pemerintah ini dinilai sangat merugikan 
baik pihak penyedia jasa transportasi maupun pihak konsumen. Dengan dikeluarkannya peraturan 
pengaturan tarif maka semua pihak akan mengalami kerugian. Transportasi konvensional akan 
tetap ditinggalkan karena mereka tetap saja tidak akan memperbaiki diri karena bagi mereka tidak 
ada kemudahan yang diterima dengan peraturan baru itu. Pengusaha transportasi online juga 
dirugikan karena mereka jadi kehilangan lahan untuk melakukan persaingan. Yang paling 
dirugikan oleh pengaturan tarif adalah konsumen, karena pilihan “murah dan nyaman” jadi 
tertutup. Konsumen hanya akan memiliki pilihan “mahal nyaman” dan “mahal tidak nyaman”. 
Jadi,  walau tarif antara yang online dan konvensional disamakan, tidak akan menaikkan 
pemasukan para angkutan konvensional secara signifikan, karena orang-orang akan tetap memilih 
transportasi online karena jauh lebih nyaman dan aman, pembedanya hanyalah harus membayar 
lebih mahal. 

Selengkapnya :  
http://www.kompasiana.com,http://www.rappler.com,https://m.tempo.com,https://seword.com,http://www.cnnindonesia.com 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ESSAY SIKAP BELA NEGARA PADA GENERASI MUDA

Essay Kebutuhan Air

Essay Pudarnya Pesona Bahasa Indonesia di Kalangan Pemuda Indonesia