Pengalaman Mengajar Eka di SDN 171 Kota Jambi

Assalamualaikum wr.wb

Haaiii salam kenal

Aku eka romiati, lebih sering dipanggil bu eka (aku merasa senang ketika murid-muridku memanggilku seperti ini) dan kalian juga boleh memanggilku dengan “Bu”. Panggilan ini gak membuatku merasa tua tapi sebaliknya, aku merasa seperti anak-anak yang harus bersikap lebih dewasa diantara anak-anak. Karena mengajari anak-anak gak bisa pakai cara orang dewasa yang Cuma kasih penjelasan dan tugas, mereka harus diselengi dengan permainan, nyanyian, pujian, gurauan bahkan teguran yang berulang-ulang.

Senin, 8 Agustus 2016 hari pertama aku mengenal SDN 171. SD ini berlokasi di danau sipin, jalan cendana. Untuk mencarinya gak susah karena ada plang persis didepan lorong. Hari ini aku lewati dengan bertemu kepala sekolahnya terlebih dahulu, yaitu ibu dwita. Hanya sedikit yang kami bahas, mengenai pembelajaran, adm, dan gaji. Selanjutnya bertemu kak fitria yang merupakan operator sekolah yang bertugas sementara sebagai guru pengganti di kelas 3. Aku diamanahkan untuk mengajar di kelas 3 dikarenakan guru sebelumnya sudah pindah kesekolah lain dan menjadi kepala sekolah di SD yang baru.
Pertama kali masuk kelas, aku coba lihatin semua calon murid-muridku.  Mereka semua kecil, sebagian siswa ada giginya yang ompong, sedikit lasak, dan gak mau diem. Hhhmmm aku gak pernah kebayang sebelumnya mengajar mahluk imut-imut ini karena notabennya latar pendidikanku dikhususkan untuk SMP dan SMA. 2 hari aku di temanin kak fit di kelas, untuk melihat kondisi anak-anak. Dan aku mulai sukaaa.

Awal-awal aku mengajar mereka diem dan nurut, dan aku merasa bahagiaaaa sekali saat itu. Selanjutnya, mereka mulai mengeluarkan jurus-jurusnya,ada yang hobi berjalan, sembunyi dibawah meja, gangguin temennya, suka nangis, suka ngadu, suka nendang-nendang, suka makan, daaaannnn banyaaaaak lagi, tapi gak semuanya kok sebagian ada yang penurut, suka belajar, suka belain temennya kalo nangis, suka menggambar, bahkan ada yang pendiam.
Aku dihadapkan dengan 25 murid dan semuanya memiliki 25 sifat yang berbeda-beda tapi tetap punya kesamaan, mereka adalah anak-anak. Ada satu caption yang aku baca di instagram temenku yang profesinya juga guru,  isinya menjurus kepada ajakan untuk membuat murid-muridnya sebagai investasi akhirat. Dan aku mulai berpikir untuk seperti dia, menjadikan anak-anak itu sebagai ladang investasi yang bisa menjadi amal jariyah ketika aku sudah mati nanti.

Pertama kali yang aku lakukan adalah memegang kendali mereka. Mereka anak-anak, terkadang setiap omongan kita gak digubris, sehingga sulit diatur. Aku coba terapkan untuk menggunakan kode jari, dengan membuat kesepakatan pada hitungan jari ke lima mereka harus duduk dan diem. Dan hasilnya adalaaaaahh berhasil. Butuh waktu yang lama agar mereka bisa menyesuaikan dengan semua peraturan yang aku buat. Aku Cuma ingin gak teriak-teriak aja dikelas untuk mendiamkan mereka, disamping suaraku bisa habis, simbolis guru killer pun bisa aku dapatkan.

Alhamdulilah 2 bulan mereka udah bisa menyesuaikannya dan mereka patuh dengan kesepakatan yang aku buat, dan aku merasa bahaagiaaaaaaaaaa. Tantangan selanjutnya adalah materi. Aku termasuk guru yang jarang memberi PR karena setelah survey yang aku lakukan, PR yang aku berikan jarang dikerjakan, kalopun dikerjakan itu adalah hasil karya kakak, ibu atau bapaknya. Jadi triknya materi harus selesai pada hari itu, kalaupun materi gak terkejar dan dijadikan PR itu untuk materi-materi tertentu saja seperti PKN dan IPS yang perlu banyak membaca untuk mengerjakan tugas. Untuk materi MTK dan IPA aku jarang memberinya karena itu tadi, yang mengerjakan bukan si anak.

Dalam proses pembelajaranpun sering aku terapkan metode teman sebaya. Yaaah terkadang bahasa aku terlalu tinggi, sehingga hanya sebagian siswa yang nangkap meteri pembelajaran dan sebagian lagi bengong, mau nanya gak tau apa yang mau ditanya, mau ngerjakan tugas gak tau cara menyelesaikannya, mau istirahat tapi belum bunyi belnya (hehehe).

Terutama dalam MTK, sebagian yang paham aku minta dia membantu temennya yang belum bisa dan cara ini termasuk efektif, karena bahasa yang mereka gunakan selevel sehingga bisa lebih nyambung, dan itu aku terapkan hingga saat ini.

Setelah 1 semester bisa menguasai mereka, target selanjutnya adalah akhirat. Aku mulai membiasakan mereka dengan sholat, yaaah walaupun aku tau mereka ada yang belum tau bacaan sholat tapi setidaknya dengan ikut orang tua, kakak, atau temen-temennya sholat perilaku mereka bisa berubah. Dan ini berhasil, aku serius. Mereka yang terbiasa sholat akan lebih mudah diatur, mudah di ajak untuk kebaikan, mudah nangkap pelajaran. Ini membutuhkan pendekatan yang lama, dengan sabar menanyakan mereka kenapa gak sholat, jika ada siswa yang sholatnya kurang dari 3. Dan ini tiap hari harus ditanyakan hingga mereka bosan dan menjadi kebiasaan mereka agar tidak ditanya lagi dengan meningkatkan frekuensi sholat mereka.

Aku juga mengenalkan mereka dengan asmaul husna dengan nyanyian. Yaa Allah, ya Rahman, Ya Rahim, Ya Malik…….., butuh waktu 4 bulan agar mereka hafal dan puncaknya mereka tampil diacara perpisahan dengan menyanyikan asmaul husna, aku bangga sekali lihat mereka. Ini semua atas campur tangan Allah yang melunakkan hati mereka, sehingga mereka mau nurut, bisa blajar dengan baik, bisa hafal asmaulhusna dan semoga mereka bisa jadi anak yang sholeh dan sholeha kedepannya. Aamiin.
























 yuuuk kalian yang mempunyai niat sebagai guru, jangan sia-siakan kesempatan emas untuk menjadikan anak didikmu sebagai ladang investasi akhiratmu kelak.
Sekian ceritaku
Salam manis. Eka romiati

Wassalamualaikum wr.wb

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ESSAY SIKAP BELA NEGARA PADA GENERASI MUDA

Essay Kebutuhan Air

Essay Pudarnya Pesona Bahasa Indonesia di Kalangan Pemuda Indonesia