Goes to Purwokerto Part 2
Setelah turun dari kereta, ayah mbak indes datang
menjemput. Waktu tempuh rumah mbak indes dan stasiun lumayan jauh, 1,5 jam.
Selama perjalanan, sepenglihatan aku, purwokerto hampir mirip dengan bandung
karena dikelilingi oleh pengunungan, suasananya asri karena masih banyak sawah,
tapi udah maju dengan buktinya adanya bluebird yang melintas.
Melihat rumah mbak indes itu berasa melihat surga (surga
sofa dan surga Kasur). Pinggang udah gak bisa ditawar lagi, alhasil baru nyampe
masuk kamar mbak indes, kami tiduuur.
Aku yang udah tidur lama, malah gak bisa tidur. Daaan
tara mbak indes ngajak ke dapur.
Ini adalah dapur pertama yang aku datangi setelah
vakum 4 bulan, saat itu juga aku berasa reunian dengan kompor, kuali, klaci,
minyak, dan kawan-kawan laiinya. Mbak indes ngajak buat tempe mendoan, di
purwokerto ada tempe khusus untuk buat mendoan, dalam 1 sachet daun pisang ada
2 tempe, menggorengnya pun gak terlalu lama.
tempenya lebar-lebar
Tapi, berhubung aku gak suka yang lembek-lembek, alhasil aku goreng sebagian kayak tempe biasa :D
sebagian menu udah disiapin sama ibunya mbak indes.
Setelah makan, bersih-bersih, rencana perjalanan yang
udah dirancang oleh tour guide terbaik
sejawa tengah (istianatul izzah) selanjutnya adalah ke air terjun. Yaaa Namanya
rencana, kadang aksinya gak sesuai. Efek kenyang habis makan, membuat kami para
pelancong ngantuk , bahkan mbak istinya pun tergeletak tak berdaya di kasurnya.
Malam harinya, kami diajak ke alun-alun ajibarang.
Ajibarang merupakan nama kecamatan tempat mbak indes tinggal, waktu tempuh
untuk kesana kurang dari 15 menit, naah berhubung kami kesana malam minggu,
suasana di alun-alun lumayan ramai hanya saja rada ngeri.





Komentar
Posting Komentar