Goes to tegal



Setelah seharian main di baturraden, tujuan selanjutnya adalah tegal. Sebelumnya sempat makan dulu di rocket chicken di daerah ajibarang, dan saatnya menunggu bis tegal datang.




Ini cerita horror
Aku harap cukup aku dan temen-temenku saja yang mengalami hal ini.
Bis datang pukul 5 sore, kami pun bergegas naik satu per satu. Ternyata, isi bis sudah hampir penuh alhasil zakina dan yesi mantap duduk disamping sopir. Dengan bergilirnya waktu, penumpang pun semakin berkurang, yesi dan zakina sudah mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Didalam kenyamanan ini aku udah mulai ngantuk, tiba-tiba di persimpangan jalan kami di oper ke mobil lain.
Aku sulit mendefenisikan bentuk mobil ini, yang pasti mobil pertama lebih bagus dari mobil kedua.
Dalam perjalanan, hujan turun sangat deras, penumpang juga berdesakan karena jumlah kursi gak sebanyak mobil pertama, teriakan para kenek semakin memperkeruh suasana (ngapaknya jelas banget).
Horor pertama, disaat hujan tengah deras-derasnya. Rintik air menyentuh tanganku, tasku, dan bajuku. Mobil ini atapnya bocor T_T. Bergeser kiri kanan pun air tetap ngucur, yesi disampingku Cuma bisa cekikan.
Horror yang kedua, perjalanan ke tegal berlangsung dari magrib sampai isya yang memakan waktu 3,5 jam. Alhasil ditengah kegelapan jalanan penerangan dalam bis sangat diandalkan. Kalian tau bis ini menggunakan lampu apa??. Lampu kuning berdaya kira-kira 10 atau 15 watt. Dan itu bisa redup dan terang tiba-tiba. Saat lampunya redup yang kelihatan hanya sorot lampu dari lawan pengguna jalan.
Horror yang ketiga, disaat hujan yang deras-derasnya, pak supir mengemudikan mobil dengan lincah. Saat mataku melihat gayanya menyetir, aku lihat mobil ini gak punya kanebo (alat yang berfungsi untuk ngelap air hujan itu lohh). Jalannya ngebut, kaca berembun, hujan deras. Aku Cuma bisa zikir dalam bis, semoga perjalanan ini selamat T_T

Alhamdulilaah sampai tegal dengan jantungku belum berubah posisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ESSAY SIKAP BELA NEGARA PADA GENERASI MUDA

Essay Kebutuhan Air

Essay Pudarnya Pesona Bahasa Indonesia di Kalangan Pemuda Indonesia