Jambi 4


Selama dibandung aku menggerutu, kenapa harga martabak disini mahal-mahal, bayangkan yaaa seporsinya bisa Rp50.000, -_-
Alhasil sebelum aku pulang, aku selalu nelpon ibu meli dengan antusias ngomongin martabak
“bu, pas eka pulang nanti eka harus makan martabak yang banyak”
“iyaaaaa, mau apalagi?” jawabnya
“makan tekwan juga, disini gak ada tekwan soalnya”
“iyaaaa, mau apalagi?
“ikan saos sama tumis kankung”
“iyaaaa, apalagi” nadanya udah geram
“udah bu, udah, hahaha”
Sore ini aku di belikan martabak. Yeeeee




flasback sebentar ya

Dulu kami punya tempat martabak favorit, setiap kali bapak ngajak jalan-jalan sore dan pas melewati penjual martabak itu, kami pasti beli, martabaknya enak harganya murah. Kurang apalagi coba. Dan sampe sekarang penjual martabaknya masih ada. Namun sayangnya, penjual itu orang cina. Ibu takut kalo penggorengannya habis dipakai untuk masak-masaknya haram dan gak dicuci dengan bersih. Jadi, kami beralih ke martabak muslim. Untuk mencari martabak muslim pun ibu nyari yang ada label “martabak muslim asli”. Kalo hanya martabak muslim aja, ibu gak mau beli. Harus pake “asli”.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

ESSAY SIKAP BELA NEGARA PADA GENERASI MUDA

Essay Kebutuhan Air

Essay Pudarnya Pesona Bahasa Indonesia di Kalangan Pemuda Indonesia